Berita

Terminal Peti Kemas Semarang Buka Layanan Domestik

Dermaga Terminal Petikemas yang dimiliki Terminal Petikemas Semarang (TPKS) dipastikan akan semakin sibuk. Itu menyusul TPKS yang berencana membuka dermaga tersebut untuk kepentingan pelayanan bongkar dan muat khususnya pelayanan petikemas domestik.

"Dibukanya pelayanan petikemas domestik ini telah mendapat suport dari berbagai pihak. Salah satunya adalah Asosiasi Logistik dan Forwarding Indonesia (ALFI) Jawa Tengah," ujar General Manager TPKS, Sumarzen Marzuki, dalam siaran persnya, Minggu (21/10).

"Tak hanya itu TPKS juga telah mendapatkan ijin dari Bea dan Cukai Jateng dan DIY Nomor : S-836/WBC.09/2012 tanggal 30 April 2012 tentang persetujuan Terminal Petikemas Semarang untuk membuka pelayanan petikemas domestik," tutur Sumarzen.

Pelayanan petikemas domestik tersebut juga didasarkan pada pemanfaatan dermaga TPKS pada hari-hari tertentu dan upaya peningkatan utilisasi lapangan penumpukan Samudera Pelabuhan Tanjung Emas serta adanya kebutuhan
customer di Jawa Tengah atas pelayanan petikemas domestik.

”Kami mengundang sejumlah asosiasi untuk mensosialisasikan pembukaan terminal domestik, dan pada prinsipnya semua shipping line dan forwarder mendukung kepentingan itu,” kata pria kelahiran Padang, Sumatra Barat itu.

Kondisi eksisting di dermaga TPKS saat ini sepanjang 495 meter dan kedalaman -9,5 meter low water spring (LWS), dalam waktu dekat telah dipersiapkan dermaga tambahan sepanjang 105 meter sehingga total panjang dermaga akan menjadi 600 meter. Sementara saat ini baru kegiatan pelayanan petikemas internasional saja yang dilakukan oleh TPKS.

Sumarzen mengungkapkan bila peluang yang ditangkap adalah pengusaha domestik Jawa Tengah. Sejauh ini banyak arus barang dari Jawa Tengah dikirimkan melalui pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya dan sebagian lagi melalui Tanjung Priok Jakarta.

”Sejumlah pertimbangan sudah kami susun, diantaranya bekerjasama dengan Pelindo III Cabang Tanjung Emas, dan mengurai kepadatan arus lalu lintas di Pantura dari Semarang hingga Surabaya,” ulasnya.

TPKS memiliki fasilitas alat bongkar muat seperti Container Crane sebanyak lima buah dan dermaga sepanjang 495 m. Sementara Pelindo Cabang Tanjung Emas memiliki lapangan penumpukan dan disediakan untuk kegiatan penumpukan petikemas domestik.

Pada saat ini dermaga di TPKS, pada hari Senin-Rabu cenderung kosong. Sedangkan pada hari Kamis-Minggu, dermaga digunakan untuk kepentingan internasional. Peluang itulah yang ditangkap TPKS dan mendapat suport dari pengusaha *shipping line*.

Berdasarkan data yang dimiliki TPKS maupun ALFI Jawa Tengah produk yang dikirim melalui Surabaya adalah *material building*, beras, gula, susu, kacang Dua Kelinci, dan Garuda, air mineral, mie instan, dan furniture.

Sementara presentase pengiriman ke Indonesia Timur mencapai 70 persen dari total 750 kontainer domestik perbulannya.

TPKS mengungkapkan secepatnya akan mengoperasikan terminal domestik. Manajemen TPKS sudah menyiapkan *special price* bagi *shipping line* yang memanfaatkan fasilitas terminal domestik.

Sumarzen menjelaskan biaya kargo melalui Surabaya bisa ditekan bila pedagangan melalui Semarang. Biaya pengiriman mencapai Rp 7,5 juta untuk kargo 20 feet. Biaya itu belum termasuk transportasi trucking dari Semarang-Surabaya dan antrian di Tanjung Perak yang mencapai dua hari.

”Sementara biaya dengan sistem kontainer bisa ditekan hingga 60 persen, atau Rp 1,3 juta per kontainer tanpa harus antrian,” tutupnya.

Ketua ALFI Jawa Tengah, Ari Wibowo memuji langkah TPKS, dengan membuka terminal domestik. ”Peluang yang kita tangkap berikutnya adalah holtikultura dari Wonosobo, Temanggung, Dieng, untuk dikirim ke Indonesia Timur,” ungkapnya.

Dari total 750 kontainer per bulan yang dikirim melalui Jawa Tengah, 70 persen dikirim ke Indonesia Timur melalui Tanjung Perak. Sisanya dikirim ke Indonesia Barat melalui Tanjung Priok, Jakarta. Tujuan pengiriman ke  Indonesia Timur adalah, Kumai, Sampit, Makassar, Balikpapan, Biak, Sorong, dan Jayapura.

Ari Wibowo menambahkan, dibukanya pelayanan petikemas domestik di TPKS ini tidak hanya menangkap peluang perdagangan domestik dari Semarang ke sejumlah kota di Indonesia. Tetapi juga menangkap potensi peluang ekspor.

Masalahnya produk unggulan dari Indonesia Timur bisa ditangkap untuk diekspor. Sehingga perimbangan transportasi barang di Semarang tetap berimbang.

Terpisah, Ketua ALFI Jawa Timur, Aziz Winanda sependapat dibukanya terminal domestik di Semarang. Tetapi dia mengaku kue untuk anggotanya berkurang. Sementara Kepala Humas Pelindo III, Edi Priyanto, menegaskan, pelayanan terminal petikemas domestik di TPK Semarang tidak akan mengurangi kue di Tanjung Perak, apalagi setiap tahun terjadi pertumbuhan dan peningkatan arus petikemas domestik yang signifikan di Pelabuhan Tanjung Perak yaitu pada kisaran 9-10%. ”Justru bisa sedikit membantu mengurangi beban kepadatan di Pelabuhan Tanjung Perak,” ungkapnya.

sumber:http://wartaekonomi.co.id/berita5855/terminal-peti-kemas-semarang-buka-layanan-domestik.html

Penulisan: 13/11/2012 09:03:28
Modifikasi: 13/11/2012 09:03:28